Sebaik-baik manusia adalah berbagi apa yang dia bisa

  • This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sunday, September 11, 2016

Arafah Rianti Stand up Comedy Academy 2 INDOSIAR bikin Rey Utami nyaris ...



Pengakuan Arafah polos..loooss, jujur dan lucuuu
Share:

Thursday, September 1, 2016

Menengok Kembali Etika Jabatan Guru

Menengok Kembali Etika Guru
Banyak  faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengembangan sumber daya manusia (SDM) menjadi manusia seutuhnya; yakni manusia yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan, keahlian, ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, melalu jenis dan jenjang satuan pendidikan, yang mana antara faktor yang satu dengan faktor lainnya saling berkait dan tidak dapat dipisahkan-pisahkan. Salah saatu faktor tersebut adalah faktor keberadaan guru sebagai agen pembaharuan (inovator), agen perubahan yang  kedudukannya menjadi sangat sentral dalam hal sebagai pengelola proses belajar mengajar (PBM) secara efektif dan efisien. Karena dipundak gurulah terpulang tanggungjawab dalam hal pembenbukan kepribadian peserta didik yang mantap dan mandiri.
Sejarah perkembangan profesi guru, tugas mengajar sebenarnya adalah pelimpahan dari tugas orang tua karena tidak mampu lagi memberikan pengetahuan, ketrampilan dan sikap-sikap tertentu sesuai dengan perkembangan zaman. Sebab dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan masyarakat dan budaya pada umumnya, maka berkembang pulalah tugas dan peranan guru, seiring dengan berkembangnya masalah jumlah anak yang memerlukan pendidikan. (Baca: Dr. Arief S. Sadiman, MSc; et al: 1986: 3).
Mengkaji perkembangan profesi guru sebagai pelimpahan dari sebagian tanggungjawab orang tua dalam hal pembentukan kepribadian anak didik, maka sudah seharusnya guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa hendaknya benar-benar memahami apa yang dinamakan etika jabatan.
Etika  jabatan adalah suatu tata cara prilaku yang harus dilakukan oleh seseorang yang memangku sesuatu jabatan tertentu. Atau dengan perkataan lain, etika jabatan adalah norma-norma yang dipergunakan untuk menentukan buruk baiknya seseorang di dalam profesinya. Tata cara akhlak tersebut adalah menyangkut pengertian buruk baiknya, kebiasan-kebiasaan, atau ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku, baik tertulis maupun tidak tertulis yang harus dilaksanakan dan ditaati demi kehormatan jabatannya. (Baca: Drs. Dirawat, et al; 1986: 193)
Atas dasar pengertian etika jabatan di atas, maka berikut ini dikedepankan beberapa etika guru yang berhubungan langsung dengan jabatannya, sebagai berikut:
1.      Etika guru dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa
Sebagai ummat manusia yang beragama, maka seorang guru senantiasa dituntut mengembangkan sikap-sikap sebagai berikut:
a)     Hendaknya selalu bertaqwa dan memasrahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esadi mana saja dan kapan saja.
b)     Selalu berdo’a dan selalu minta petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam setiap menghadapi dan melaksanakan tugas.
c)      Setiap melakukan kewajiban, hendaknya sesuai dengan ajaran agamanya masing-masing.
d)     Hendaknya bersikap toleransi terhadap agama-agama lain.
e)     Tidak memaksakan keyakinan agamanya kepada orang lain.
f)       Hendaknya memperlakukan setiap orang sebagai sesama makhluk Tuhan.
g)     Senantiasa merasa bertanggungjawab kepada Tuhan melalui tanggungjawabnya terhadap segala perbuatan yang berhubungan dengan jabatan.
2.      Etika guru dalam hubungannya dengan jabatan.
Sebagai orang yang diberi kepercayaan memangku jabatan guru, mereka senantiasa dituntut mengembangkan beberapa hal sebagai berikut:
a. Berusaha untuk memiliki kepribadian Indonesia yang teguh dan memperlengkapi perlengkapan pribadi dengan sifat-sifat yang baik.
b.  Bertindak, bersikap sesuai denganm tuntutan jabatan, di mana dan bila manapun.
c.    Berdisiplin dalam menjalankan tugas-tugas jabatan.
d.   Bertanggungjawab atas segala tugas yang dibebankan kepadanya.
e.    Beritikat baik dalam melaksanakan tugas.
f.     Bersifat jujur dan ikhlas dalam melaksanakan tugas.
g.    Susila dalam sikap bicara dan perbuatan.
h.   Menjunjung tiggi keadilan dan kebenaran dalam melaksanakan tugas.
i.      Tabah dan sabar dalam menghadapi dan menjalankan tugas.
j.      Bijaksana dan teliti dalam menyelesaikan persoalan.
k.     Bersedia mengabdi pada jabatan.
l.      Bersikap rendah hati dan peramah dalam pergaulan.
m.  Berpakaian bersih, rapi, sopan sesuai dengan kepribadian Indonesia.
n.   Rela berkorban untuk kepentingan jabatan.
o.    Memandang mulia jabatannya.
p.    Memegang teguh rahasia jabatan dan tidak membocorkannya.
q.   Berusaha untuki meningkstkan profesinya.
r.  Memelihara dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi pendidikan.
s.    Memberi dorongan kepada pemuda-pemudi nuntuk menghargai dan mencintai jabatan guru dikemudian hari.
t.   Tidak melibatkan diri dalam hal-hal di luar jabatan yang mengganggu atau bertentangan dengan tugas pokok jabatan.

3.      Etika guru dalam hubungannya dengan rekan seprofesi 
Share:

Cara Cek Usulan Kenaikan Pangkat Pengawas

Bagi sahabat pengawas dan PNS lainnya yang ingin mengetahui validitas kepagawaian anda, baik yang sedang mengajukan usulan kenaikan pangkat maupun data anda yang tercover di Badan Kepegawain Negara (BKN) sebagai database anda tidak perlu kawatir dengan pengajuan usulan kenaikan pangkat maupun data base anda. BKN telah menyediakan link yang bisa mengecek keberadaan usulan maupun data anda secara online dengan  cara melakukan langkah sebagai berikut,
1. Silakan masuk ke link  Cek Status Kepegawaian

2. Masukkan NIP Baru anda 18 digit secara manual, jangan copy paste
3. Lalu Klik Tampilkan, kalau NIP anda valid maka akan tampil data anda lengkap.

Demikian sedikit info yang bisa kami berikan semoga bermanfaat dan sukses
Share:

Saturday, November 28, 2015

PENDEKATAN, JENIS, DAN METODE PENELITIAN PENDIDIKAN

Penelitian merupakan suatu bentuk  kegiatan ilmiah  untuk mendapatkan pengetahuan atau kebenaran. Ada dua teori kebenaran pengeta- huan, yaitu teori koherensi dan korespondensi. Teori koherensi beranggapan bahwa suatu pernyataan  dikatakan benaapabila sesuai dan tidak bertentangan dengan pernyataan sebelumnya. Aturan yang dipakai adalah logika berpikir atau berpikir logis. Sementara itu teori korenspondensi berasumsi bahwa sebuah pernyataan dipandang benar apabila sesuai dengan kenyataan (fakta atau realita). Untuk menemukan kebenaran yang logis dan didukung oleh fakta, maka harus dilakukan penelitian terlebih dahulu. Inilah hakikat penelitian sebagai kegiatan ilmiah atau sebagai proses the acquisition of knowledge.
Pengawas sekolah harus memiliki kompetensi dalam melakukan penelitian. Karena diharapkan pengawas mampu memberikan solusi setiap permasalahan yang dihadapi oleh kepala sekolah dan guru, yang menuntut jawaban yang cepat dan akurat yang dapat dipertanggung jawabkan.
Kedudukan pengawas sebagai pembina para guru dan kepala sekolah, mengharuskan dia memiliki kesiapan memberikan solusi bagi permasalahan yang mereka hadapi. Ia dapat saja mengandalkan pengalaman, baik dirinya sendiri maupun orang lain, mengambil teori dari buku-buku, atau bahkan mengandalkan intuisi. Hal ini tentu tidak selamanya memuaskan, karena yang dituntut darinya adalah professional judgement yang dapat dijadikan acuan.
Perkembangan ilmu pengetahuan menghasilkan berbagai pendekatan, metode dan jenis penelitian sesuai dengan paradigma keilmuan serta realitas gejala yang hendak diungkap. Untuk dapat memilih pendekatan dan/atau metode yang tepat, seseorang dituntut memahami substansi keilmuan/bidang kajian dan metodologi penelitian. Hal ini tentu sangat dibutuhkan oleh pengawas, yang dalam tugasnya selalu dihadapkan pada persoalan pendidikan baik pada kawasan institusional maupun teknis operasional.
A. Hakekat Penelitian
Rasa ingin tahu mendorong manusia untuk mendapatkan pengetahuan melalui pertanyaan-pertanyaan. Setiap manusia yang berakal sehat pasti memiliki pengetahuan dari belajar mengamati fakta, realitas, konsep, prinsip maupun prosedur tentang suatu obyek. Pengetahuan dapat dimiliki berkat adanya pengalaman atau melalui interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Secara universal, terdapat tiga jenis pengetahuan yang selama ini mendasari kehidupan manusia yaitu: (1) logika yang dapat membedakan antara benar dan salah; (2) etika yang dapat membe- dakan  antara  baik  dan  buruk;  serta  (3)  estetika  yang  dapat  membedakan antara  indah  dan  jelek.  
Share:

Saturday, September 19, 2015

TEKNIK SUPERVISI

TEKNIK SUPERVISI

Supervisi akademik ditujukan untuk membantu guru meningkatkan pembelajaran, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan belajar siswa. Sesuai dengan tujuannya tersebut maka istilah yang sering digunakan adalah supervisi pengajaran (instructional supervision).
Terdapat beberapa metode dan teknik supervisi yang dapat dilakukan pengawas. Metode metode tersebut dibedakan antara yang bersifat individual dan kelompok. Pada setiap metode supervisi tentunya terdapat kekuatan dan kelamahan.
Ada bermacam-macam teknik supervisi akademik dalam upaya pembinaan kemampuan guru. Dalam hal ini meliputi pertemuan staf, kunjungan supervisi, buletin profesional, perpustakaan profesional, laboratorium kurikulum, penilaian guru, demonstrasi pembelajaran, pengembangan kurikulum, pengembangan petunjuk pembelajaran, darmawisata, lokakarya, kunjungan antarkelas, bacaan profesional, dan survei masyarakat-sekolah.
Sedangkan menurut Gwyn, teknik-teknik supervisi itu bisa dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu. teknik supervisi individual, dan teknik supervisi kelompok.

1.    Teknik Supervisi Individual
Teknik supervisi individual di sini adalah pelaksanaan supervisi yang diberikan kepada guru tertentu yang mempunyai masalah khusus dan bersifat perorangan. Supervisor di sini hanya berhadapan dengan seorang guru yang dipandang memiliki persoalan tertentu. Teknik-teknik supervisi yang dikelompokkan sebagai teknik individual meliputi: kunjungan kelas, observasi kelas, pertemuan individual, kunjungan antarkelas, dan menilai diri sendiri.

a.    Kunjungan Kelas
Kunjungan kelas adalah teknik pembinaan guru oleh kepala sekolah, pengawas, dan pembina lainnya dalam rangka mengamati pelaksanaan proses belajar mengajar sehingga memperoleh data yang diperlukan dalam rangka pembinaan guru. Tujuan kunjungan ini adalah semata-mata untuk menolong guru dalam mengatasi kesulitan atau masalah mereka di dalam kelas. Melalui kunjungan kelas, guru-guru dibantu melihat dengan jelas masalah-masalah yang mereka alami. Menganalisisnya secara kritis dan mendorong mereka untuk menemukan alternatif pemecahannya. Kunjungan kelas ini bisa dilaksanakan dengan pemberitahuan atau tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, dan bisa juga atas dasar undangan dari guru itu sendiri.
Ada empat tahap kunjungan kelas.
Pertama, tahap persiapan. Pada tahap ini, supervisor merencanakan waktu, sasaran, dan cara mengobservasi selama kunjungan kelas.  Kedua, tahap pengamatan selama kunjungan. Pada tahap ini, supervisor mengamati jalannya proses pembelajaran berlangsung.  Ketiga,tahap akhir kunjungan. Pada tahap ini, supervisor bersama guru mengadakan perjanjian untuk membicarakan hasil-hasil observasi, sedangkan tahap terakhir adalah tahap tindak lanjut.
Ada beberapa kriteria kunjungan kelas yang baik, yaitu: (1) memiliki tujuan-tujuan tertentu; (2) mengungkapkan aspek-aspek yang dapat memperbaiki kemampuan guru; (3) menggunakan instrumen observasi tertentu untuk mendapatkan daya yang obyektif; (4) terjadi interaksi antara pembina dan yang dibina sehingga menimbulkan sikap saling pengertian; (5) pelaksanaan kunjungan kelas tidak menganggu proses belajar mengajar; (6) pelaksanaannya diikuti dengan program tindak lanjut.

b.    Observasi Kelas
Observasi kelas secara sederhana bisa diartikan melihat dan memperhatikan secara teliti terhadap gejala yang nampak. Observasi kelas adalah teknik observasi yang dilakukan oleh supervisor terhadap proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Tujuannya adalah untuk memperoleh data seobjektif mungkin mengenai aspek-aspek dalam situasi belajar mengajar, kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh guru dalam usaha memperbaiki proses belajar mengajar. Secara umum, aspek-aspek yang diamati selama proses pembelajaran yang sedang berlangsung adalah:
1)    usaha-usaha dan aktivitas guru-siswa dalam proses pembelajaran
2)    cara penggunaan media pengajaran
3)    reaksi mental para siswa dalam proses belajar mengajar
4)    keadaan media pengajaran yang dipakai dari segi materialnya.
Pelaksanaan observasi kelas ini melalui beberapa tahap, yaitu:
(1)  persiapan observasi kelas;
(2)  pelaksanaan observasi kelas;
(3)  penutupan pelaksanaan observasi kelas;
(4)  penilaian hasil observasi; dan
(5)  tindaklanjut.

Dalam melaksanakan observasi kelas ini, sebaiknya supervisor menggunakan instrumen observasi tertentu, antara lain berupa evaluative check-list, activity check-list.

c.    Pertemuan Individual
Pertemuan individual adalah satu pertemuan, percakapan, dialog, dan tukar pikiran antara pembina atau supervisor guru, guru dengan guru, mengenai usaha meningkatkan kemampuan profesional guru. Tujuannya adalah:
(1)   memberikan kemungkinan pertumbuhan jabatan guru melalui pemecahan kesulitan yang dihadapi;
(2)   mengembangkan hal mengajar yang lebih baik;
(3)   memperbaiki segala kelemahan dan kekurangan pada diri guru; dan
(4)   menghilangkan atau menghindari segala prasangka yang bukan-bukan.

Swearingen (1961) mengklasifikasi jenis percakapan individual ini menjadi empat macam sebagai berikut
a.    classroom-conference, yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di dalam kelas ketika murid-murid sedang meninggalkan kelas (istirahat).
b.    office-conference. Yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di ruang kepala sekolah atau ruang guru, di mana sudah dilengkapi dengan alat-alat bantu yang dapat digunakan untuk memberikan penjelasan pada guru.
c.    causal-conference. Yaitu percakapan individual yang bersifat informal, yang dilaksanakan secara kebetulan bertemu dengan guru
d.    observational visitation. Yaitu percakapan individual yang dilaksanakan setelah supervisor melakukan kunjungan kelas atau observasi kelas.
Dalam percakapan individual ini supervisor harus berusaha mengembangkan segi-segi positif guru, mendorong guru mengatasi kesulitankesulitannya, dan memberikan pengarahan, hal-hal yang masih meragukan sehingga terjadi kesepakatan konsep tentang situasi pembelajaran yang sedang dihadapi.

d.    Kunjungan Antar Kelas
Kunjungan antarkelas dapat juga digolongkan sebagai teknik supervisi secara perorangan. Guru dari yang satu berkunjung ke kelas yang lain dalam lingkungan sekolah itu sendiri. Dengan adanya kunjungan antarkelas ini, guru akan memperoleh pengalaman baru dari teman sejawatnya mengenai pelaksanaan proses pembelajaran pengelolaan kelas, dan sebagainya.
Agar kunjungan antarkelas ini betul-betul bermanfaat bagi pengembangan kemampuan guru, maka sebelumnya harus direncanakan dengan sebaik-baiknya. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh supervisor apabila menggunakan teknik ini dalam melaksanakan supervisi bagi guruguru.
a.    Guru-guru yang akan dikunjungi harus diseleksi dengan sebaik-baiknya. Upayakan mencari guru yang memang mampu memberikan pengalaman baru bagi guru-guru yang akan mengunjungi.
b.    Tentukan guru-guru yang akan mengunjungi.
c.    Sediakan segala fasilitas yang diperlukan dalam kunjungan kelas.
d.    Supervisor hendaknya mengikuti acara ini dengan cermat. Amatilah apa-apa yang ditampilkan secara cermat, dan mencatatnya pada format-format tertentu.
e.    Adakah tindak lanjut setelah kunjungan antarkelas selesai. Misalnya dalam bentuk percakapan pribadi, penegasan, dan pemberian tugas-tugas tertentu.
f.     Segera aplikasikan ke sekolah atau ke kelas guru bersangkutan, dengan menyesuaikan pada situasi dan kondisi yang dihadapi.
g.    Adakan perjanjian-perjanjian untuk mengadakan kunjungan antar kelas berikutnya.


e.    Menilai Diri Sendiri
Menilai diri sendiri merupakan satu teknik individual dalam supervisi pendidikan. Penilaian diri sendiri merupakan satu teknik pengembangan profesional guru (Sutton, 1989). Penilaian diri sendiri memberikan informasi secara objektif kepada guru tentang peranannya di kelas dan memberikan kesempatan kepada guru mempelajari metoda pengajarannya dalam mempengaruhi murid (House, 1973). Semua ini akan mendorong guru untuk mengembangkan kemampuan profesionalnya (DeRoche, 1985; Daresh, 1989; Synder & Anderson, 1986).
Nilai diri sendiri merupakan tugas yang tidak mudah bagi guru. Untuk mengukur kemampuan mengajarnya, di samping menilai murid-muridnya, juga menilai dirinya sendiri. Ada beberapa cara atau alat yang dapat digunakan untuk menilai diri sendiri, antara lain sebagai berikut.
a.    Suatu daftar pandangan atau pendapat yang disampaikan kepada murid-murid untuk menilai pekerjaan atau suatu aktivitas. Biasanya disusun dalam bentuk pertanyaan baik secara tertutup maupun terbuka, dengan tidak perlu menyebut nama.
b.    Menganalisa tes-tes terhadap unit kerja.
c.    Mencatat aktivitas murid-murid dalam suatu catatan, baik mereka bekerja secara perorangan maupun secara kelompok.


2.    Teknik Supervisi Kelompok
Teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan program supervisi yang ditujukan pada dua orang atau lebih. Guru-guru yang diduga, sesuai dengan analisis kebutuhan, memiliki masalah atau kebutuhan atau kelemahan-kelemahan yang sama dikelompokkan atau dikumpulkan menjadi satu/bersama-sama. Kemudian kepada mereka diberikan layanan supervisi sesuai dengan permasalahan atau kebutuhan yang mereka hadapi.
Menurut Gwynn, ada tiga belas teknik supervisi kelompok, sebagai berikut.
a)    Kepanitiaan-kepanitiaan
b)    Kerja kelompok
c)    Laboratorium kurikulum
d)    Baca terpimpin
e)    Demonstrasi pembelajaran
f)    Darmawisata
g)    Kuliah/studi
h)    Diskusipanel
i)     Perpustakaan jabatan
j)     Organisasi profesional
k)    Buletin supervisi
l)     Pertemuan guru
Share:
Pokjawas Grobogan. Powered by Blogger.

StatCounter

View My Stats

Recent Posts

Unordered List

Ordered List

Theme Support